“Enji,
bangun. Sudah jam berapa ini. Kamu memangnya gak ngampus?” panggil mama Enji.
Enji bangun agak malas, sebentar ia tersenyum pada sebuah foto dekat ranjang
tidurnya. Gadis belia dengan seragam putih abu dan senyumnya yang selalu
membuat Enji selalu merasa mempunyai semangat disetiap paginya, Clarissa.
Dia
ingat, hari ini dia harus menjemput Yaya, anak dari Om Retno, kerabat dekat
ayahnya. Anak SMA yang menurut Enji sangat menyebalkan, selalu membuatnya kerepotan
dengan segala keusilannya. Sepulang dari kampus dia bergegas menuju rumah Om
Retno, Rencana nya Om dan Tante akan membuka usaha di luar kota, namun
berhubung Yaya anak perempuan satu-satunya
akan memasuki UNAS, ahirnya Yaya tinggal dirumah Om Brama, Ayah Enji.
Keluarga mereka sudah menjalin hubungan kekerabatan sejak Enji dan Yaya berada di Sekola yang sama, Enji sering sekali keluar masuk ruang BP karena Yaya, pernah suatu hari Yaya Mengunci kakak kelasnya di ruang kesenian yang kebetulan adalah teman Enji. Karena kelakuannya, Yaya harus menerima Skorsing dari guru BP, namun lagi-lagi Enji memasuki ruang BP sebagai penyelamat, Dia akan menanggung jika Yaya melakukan hal serupa, karena Enji adalah orang berpengaruh di Sekola tersebut, beruntung lah Yaya bisa terbebas dari hukumannya, lagi.
“hay kakak ketua osis, gua kangen banget sama lu”. Yaya menghambur kepelukan Enji setelah sekian lama mereka tidak berjumpa. “dih, jangan peluk peluk gua lu, nenek lampir”. diacak acak rambut Yaya.
“Ji,
titip Yaya yah, untuk beberapa bulan ini. Salam sama ayah dan mama mu, nanti
kita akan sering sering menjenguk yaya dan keluarga. Kalau Yaya bikin ulah
lagi, kamu kabarin Om ya.” ucap Om Retno.
“Siap
Om”
Semenjak Yaya tinggal di rumah Enji, kini banyak perubahan pada diri Enji, dimulai dari bangun pagi lebih awal dari biasanya, dan bahkan pintu kamarnya sekarang lebih sering terkunci. Enji selalu memberikan seluruh waktunya untuk Yaya, dari mulai mengantar nya kesekolah bahkan untuk menemaninya jalan-jalan saat weekend tiba.
Hanya
sekarang Yaya lah yang menjadi agak kesulitan mengatur waktu untuk Rico, pacar
Yaya. Rico sering marah sejak Yaya tidak lagi punya waktu untuknya. Yaya
terlalu takut kehilangan Rico, begitupun kehilangan Enji. Baginya, Enji adalah
Kakak laki-laki terbaik yang ia milikki saat ini. Iya menyayangi Enji, bahkan
dia sendiri tidak sadar bahwa sayangnya telah lebih dari sekedar sayang adik
kepada kaka.
Hingga
suatu hari, Yaya memergoki Rico dengan seorang perempuan di Bioskop, saat Yaya
dan Enji berada dibioskop yang sama dengan mereka, Yaya mengenali perempuan
itu. Cika, teman sekelas Yaya. Hati Yaya bergemuruh, terasa dihantam godam
besar berduri, perih. wajahnya memerah, menahan marah. Yaya menangis dan
menghambur dipelukan Enji. Kali ini dia menangis bukan untuk Rico, melainkan
untuk dirinya sendiri, menyesali dirinya yang mempertahankan seorang Rico,
laki-laki yang tidak pantas untuk disayanginya selama ini.
Selepas
perkara itu, Rico tidak pernah menghubungi Yaya lagi, tanpa sepengetahuan Yaya,
enji sempat mendatangi Rico dan menghajar Rico hingga babak belur. Rico mengaku
terlalu cemburu pada Enji, sebab itu Rico melampiaskan kekesalannya dengan
berselingkuh, “anak kecil” umpat Enji kala itu sehabis menghajar Rico tiada
ampun.
Enji
selalu berusaha membuat Yaya melupakan Rico, dan itu hal paling mudah, karna
memang Yaya cepat melupakan kejadian itu dan orang-orang yang terlibat
didalamnya. Yaya terlalu focus untuk Unas nya, dia melupakan apa yang memang
patut dilupakan melalui hal-hal yang positive. Hingga Unas berjalan Lancar dan
hari yang paling tunggu tiba, pembagian hasil Unas.
Surat
kelulusan yang Yaya terima kala itu bertuliskan “Lulus” dan seperti janji Enji
dihari lalu, Jika Yaya lulus, Yaya boleh meminta apa saja dan Enji berjanji
akan mengabulkan. Yaya sudah tak sabar ingin bertemu Enji dirumah, hari ini
Enji tidak bisa menjemput Yaya karena ada tugas kampus yang harus dia kerjakan.
Setibanya Yaya dirumah, Ayah dan Mama nya langsung menyambutnya hangat, dan
mereka sangat bahagia ketika tahu Yaya Lulus dengan Nilai yang bagus.
Yaya
terlalu senang hingga dia lupa, hari kelulusannya bertepatan dengan penjemputan
orang tua nya untuk ikut tinggal bersama mereka, meninggalkan Enji dan
keluarganya. Yaya berusaha keras menghubungi Enji, tapi hasilnya nihil.
Handpone Enji tidak dapat dihubungi. Dengan berat hati Yaya meninggalkan rumah
Enji, tidak lupa iya berpamitan dan mengucapkan terimakasih kepada mama dan
Ayah Enji karena telah menyayanginya bagai anaknya sendiri. Dan menitipkan
salam sayangnya untuk Enji, kakaknya.
Waktu
berlalu begitu saja, dua insan yang terpisah kali ini benar benar merasakan
hatinya kosong, merasa ada yang hilang terbawa pergi. Merasa ada hal yang harus
nya diselesaikan kala itu. Terlebih lagi Enji mengetahui perjodohan yang akan
dilaksanakan oleh keluarga Yaya, tapi bukan dengan keluarganya. Enji merasa
hatinya benar benar mendidih, seperti kesetanan dia memaksa orang tua nya
mengantar Enji kerumah keluarga Yaya, Enji menceritakan apa yang sebenarnya ia
sembunyikan selama ini. Ya, Enji mencintai gadis kecil yang ia temui dulu
diruang BP pertama kali, gadis yang pernah menamparnya didepan umum, gadis SMA
yang kelakuannya selalu membuat ia kewalahan. Enji tidak ingin kehilangan Yaya.
Iya, Gadis yang selama ini diam-diam dikagumi olehnya, senyum indahnya difoto
kamar Enji. Clarissa Raya.
Keluarga Enji tiba dirumah kediaman Yaya. Enji memohon
dan bersimpuh dihadapan ayah nya Yaya. “Om, saya sangat mencintai anak om, saya
rela melakukan apa saja asalkan om merestui saya untuk menikahi Yaya, saya
mohon batalkan perjodohan Yaya, saya menyayanginya lebih dari sekedar kakak
kepada adiknya, percayalah om, saya akan membahagiakan anak om”
“Enji,
saya sengaja menjodohkan Yaya untuk keberlangsungan usaha saya , ini pun untuk
kebaikan Yaya, saya harap kamu mengerti keputusan saya” ahirnya Om Retno buka
suara.
“Retno
kita berteman sudah lama, jika hanya untuk urusan usahamu, saya mau menjadi
partner bisnis mu, kita sudah seperti keluarga, jika memang untuk meminang anak
mu harus menjadi partner mu, saya akan menjadi partner abadimu jika kamu mau,
kebahagiaan anak-anak yang seharusnya kamu fikirnkan, kamu tidak ingat waktu
muda kita, berjuangnya kita menghadapi orang tua dari istri kita kala itu,
harusnya kamu sadar, jangan memaksakan kehendakmu. Ini soal perasaan anak anak
kita.”
Om
Retno terdiam, iya berfikir sejenak, benar yang dikatakan ayah Enji, Enji
menunduk pilu, badannya seketika hangat, pelukan itu dia kenal, tangan mungil
itu…
Tanpa
sepengetahuan siapapun, ternyata Yaya menguping sejak percakapan pertama kali
dua keluarga tersebut, yaya menangis dan memeluk Enji, seperti melepaskan
kerinduan dua insan yang selama ini terpisah jarak, terhalang tembok menjulang
tinggi, dua insan yang menyimpan kenangan dihati masing masing.
“Ji,
kamu ingat janjimu jika aku Lulus beberapa tahun lalu?” enji hanya mengangguk
“aku mau menagih janji mu, aku ingin kamu mengabulkan permintaan ku, aku tidak
mau kamu menolak permintaan ku ini.”
“Katakan
Yaya, aku akan mengabulkan asal kamu bahagia”
“Aku
mau kamu menikahi aku, aku memohon kepada mu”
Enji
terdiam, dia melihat kesekeliling, ayah Yaya mengangguk, mama mereka saling
berpelukan menyaksikan hal yang baru saja berlangsung, anak mereka sudah benar
benar dewasa.
Enji
memeluk Yaya, kali ini lebih erat,
“Aku menyayangimu sejak pertama bertemu dengan mu, aku tak ingin kehilanganmu, hanya saja aku terlalu takut mengungkapkan pada gadis yang sangat periang kala itu. Aku berjanji akan membahagiakan mu, aku ingin kamu menjadi Pendamping hidupku untuk selamanya, menjadi istriku, menjadi ibu dari anak anak kita. Aku yang selalu mencintamu disetiap pagi, siang, malam ku. Di setiap detik, menit, jam hidupku. Disetiap hembusan napas, aliran darah dan detak jantungku. Aku akan mengabulkan permintaan mu, aku mencintaimu.”
“Aku menyayangimu sejak pertama bertemu dengan mu, aku tak ingin kehilanganmu, hanya saja aku terlalu takut mengungkapkan pada gadis yang sangat periang kala itu. Aku berjanji akan membahagiakan mu, aku ingin kamu menjadi Pendamping hidupku untuk selamanya, menjadi istriku, menjadi ibu dari anak anak kita. Aku yang selalu mencintamu disetiap pagi, siang, malam ku. Di setiap detik, menit, jam hidupku. Disetiap hembusan napas, aliran darah dan detak jantungku. Aku akan mengabulkan permintaan mu, aku mencintaimu.”
Ett anak belek gaya bener hahaha
BalasHapushaha, ini siapa dah ?
Hapuscakap
BalasHapusAku emang cakep :p
Hapus