Antara Aku, Kamu dan SahabatKu
By: Abella Resa Anwar saputra
hari ini adalah hari pertama ku memasuki masa-masa
SMA. Dimana orang bilang masa ini lah yang sangat menyenangkan dan tidak akan
pernah terlupakan. Dimulai dari soal percintaan, persahabatan, tugas sekolah,
hukuman hingga persaingan memperebutkan seorang cowok.
Di
bulan juli ini adalah bulan yang sangat aku tunggu. Bulan yang membawa aku ke
masa orientasi sekolah (MOS) di sekolah baruku ini SMK Kenanga Jaya II.
Aku mendapatkan gugus angsa. Di sini aku mendapatkan
teman pertamaku. Dia Angga. Sekaligus cowo pertama yang aku taksir. Aneh betul
aku ini, baru masuk sudah tergila-gila dengan laki laki berdarah medan seperti dia.
“mau gak?” sapa dia pertama kali saat menawarkan
biscuit. Sayangnya saat itu aku sedang merasakan sakit di perutku. Dan enggan
menerima makanan apapun ke dalam sini. Aku hanya menggeleng lembut.
Selama tiga hari MOS ahirnya aku bisa akrab dengan
teman-teman satu gugusku itu.
Angga memilihih kejuruan informatika, sedangkan aku memilih
akuntansi. Aku berharap sekali pertemanan ini bisa terjalin lama, tidak hanya
berhenti disini. Di gugus Angsa.
***
“Joerisa Agiska” ketika nama ku itu di sebut oleh
kesiswaan. Aku sempat kaget, aku masuk kelas unggulan. Aku senang bercampur
takut.
Yang
tak ku sangka, angga menghampiriku.
“Jo,
lu masuk Akuntansi yah? gua fikir lu
informatika.”
“iya
gua Akuntansi, gua fikir lu sudah tahu, gua saja sudah tahu kalau lu
informatika.”
“hehe, sory, jo, lu kenal sama Nina gak? Temen kita satu gugus, dia masuk
akuntansi juga”
“oh
kenal, dia masuk Akuntansi B, kenapa ?”
“ah enggak jo Cuma Tanya aja, gua minta nomor handphone lu dong, nanti malam
gua sms lu deh.”
Lalu aku berikan nomor handphoneku. Cepat cepat dia
bergegas takut di goda dengan teman teman katanya.
Ada
rasa senang dan kecewa, apa mungkin dia suka dengan Nina, gadis berdarah Arab yang cantik itu.”
***
Handphone ku berbunyi, dari nomor baru. Ku angkat
cepat, dia Angga, ya benar dia Angga aku mengenali suaranya.
“Malem Jo”
“malem
juga, ini siapa yah?” Tanya ku memastikan.
“ini
gua Angga jo. gua ganggu gak?”
“oh
angga, engga ko, ada apaan emangnya Ngga?”
“eh
anu, emm itu, gua mau minta tolong dong sama lu, boleh engga?”
“apa”
Tanya ku menggantung.
“cariin
nomornya Nina dong.”
“oh
gua punya ko, nanti gua kirim lewat message aja yah.”
Tak lama aku berbincang dengan dia, sempat kecewa
saat dia menanyakan Nina, tapi cepat cepat aku mengusir jauh fikiran tak baik
ini. Mungkin Angga hanya ingin berteman dengan nina.
***
Di kelas Akuntansi unggulan ini aku berkenalan dengan
seorang perempuan manis .Namanya
Clarisha. Dia asik untuk
di ajak berbincang.
Berhubung arah rumah kami sama, maka kami selalu pulang sekolah bersamaan. Kami
berdua cepat akrab, saling berbagi cerita, bahkan saling bercerita masalah cowo
sekalipun. Wajar lah perempuan. Hehe
“oh
elo suka sama cowo itu, Angga kan namanya.” Sambil menunjuk kearah angga.
“hey,
ko elo tau sih sha” jawabku bingung.
“tau
dong, kan si Bayu temen gue, lu satu gugus juga kan sama Bayu?”
“iya
sih, tapi apa hubungannya sama Bayu Sha ?”
“ih
si enon mah pura pura bego apa emang bego, kata Bayu lo sama Angga deket banget
waktu MOS. Ampe di ledekin pacaran. Emang lo gak sadar?”
“hah!
Gua sendiri aja gak tahu. Boong tuh, gossip”
Wajah
ku memerah.
“cie Angga cieeee. haha”
Ku cubit pinggul Clarisha, jail sekali dia ini. Dia
merintih kesakitan dan berlari kea rah kantin. Dasar Clarisha jail.
Di kantin aku bertemu dengan Bayu, Clarisha sengaja
menghampiri Bayu untuk berbincang tentang ekstrakulikuler yang mereka berdua
ikuti.
Clarisha
dan Bayu mengikuti ekskul basket. Dan yang tidak ku sangka, seketika Angga
menghampiri kami bertiga.
“ehm,
boleh gabungkan ?” sapa dia sebelum duduk.
“oh
tentu Ga, duduk situh deket si
Jo, kan dia bokin lo” goda Bayu.
Pipi
ku hanya merona semu, Clarisha hanya menyenggol bahuku.
“Apaan
sih Bayu, lo kalo ngomong sembarangan.” Kilah ku.
“Tau
ni Bayu, gossip aja tau itu mah. Ya kan Jo ?” bela Angga.
Aku hanya mengangguk. Kemudian dia duduk di
sebelahku . Aku salah tingkah sendiri. Saat Bayu Angga dan Clarisha berbincang
aku hanya diam tak berbicara sama sekali. Sampai ahirnya Angga menyadari itu.
“lu
sakit ?” Tanya angga kepadaku. Aku hanya menggeleng, beruntung bel masuk
berbunyi. Aku bergegas masuk ke dalam kelas sambil menarik tangan Clarisha
tanpa pamit dengan Angga dan Bayu.
Di kelas fikiranku tidak menentu. Yang terbayang
oleh ku hanya kejadian tadi ketika Angga menyentuh tanganku. Ingin ku ulangi
sekali lagi.
Bayanganku
pun buyar seketika ibu salma memanggil namaku dengan kesal.
“Joerisa
Agiska, sedari tadi saya menjelaskan kamu hanya senyum – senyum sendiri, kamu
tidak memperhatikan saya berbicara !”marah ibu Salma.
Aku hanya tertunduk malu. Setelah itu aku berusaha berkonsentrasi untuk focus
belajar.
Hingga bel pulang tiba, Clarisha tidak bisa pulang
bareng dengan ku karena dia mau ke toko buku dengan Bayu.
Aku berjalan sendiri di koridor sekolah. Tanpa ku
sadarai Angga berada di sebelahku.
“Eh
Angga, dari kapan lu disini.” Ku sentuh lengannya.
“dari
lu keluar kelas gua udah ada di belakang
lu, tapi lu gak sadar, yaudah gua jalan di samping lu aja.” Senyum dia lepas.
Aku hanya mengangguk saja. Sampai di depan gerbang
kami hanya diam tanpa kata. Sesekali aku melirik dia, ternyata dia juga
memeperhatikan ku.
Saat
berpisah di depan sekolah, dia memegang tanganku, “jo hati-hati ya” aku hanya
mengangguk karena kaget. Semoga saja ini bukan harapan belaka.
***
“Jo menurut lo Bayu orangnya gimana?” tiba-tiba
Clarisha bertanya pada ku saat jam pelajaran olahraga di lapangan.
“Baik,
manis, apa lagi yaah.. ga tau juga deh, emangnya kenapa sha ? lo suka ya sama
Bayu?”
“hehe
iya jo gua suka sama dia, tapi kayanya dia suka sama cewek lain deh jo.”
“kata
siapa sha, emang dia bilang sama lo”
“iya
dia bilang dia suka sama cewe temen satu gugus dia, anak akuntansi juga, siapa
ya kira-kira jo?”
“sabar
ya cantik, Cuma suka kan ga berarti bakalan jadi pacar, jangan manyun gitu
ah, jelek lo kalo begitu”
Lalu kami tertawa bersamaan, hingga jam istirahat
pun berdering, semua siswa berhamburan, ada yang menuju kantin, perpus, masjid,
sampai danau pinggir sekola pun jadi tempat sasaran untuk bersantai.
Aku sengaja pergi kelapangan basket, yang kutuju
adalah angga, ya melihat angga bergelut dengan bola basketnya.
Biasanya aku di temani dengan clarisha, namun sayang,
hari ini dia ada janji dengan Bayu, di kantin sekola. Karena takut mengganggu, ahirnya aku pergi sendiri ke lapangan sekola.
Tapi
sayang, orang yang ingin ku lihat sedang bercanda dengan Nina.
Hancur harapan ku saat itu, ku tahan bendungan air
mata ini, namun ahirnya jebol juga, ku berlari ke perpustakaan, ku ambil satu
buku dan ku buka untuk menutupi wajahku.
Kumenangis sejadi-jadinya di perpustakaan, sendirian
tanpa seorang pun yang tau.
Bel masuk kelas pun berdering, namun tak ku
hiraukan, aku hanya bisa menahan sakitku sendiri di perpustakaan.
“dik, kamu engga masuk kelas?” Tanya seorang bapak
penjaga perpustakaan.
Aku hanya menggeleng dan menatap mata si bapak tua
itu, dia mengangguk seakan menegrti maksud tatapan mataku.
“yasudah
tenangkan dirimu, bapak tidak akan bilang siapa-siapa”
“terimakasih
pak” senyum lirih ku terurai
Bapak
tua itu mengangguk lalu kembali ketempat jaga.
Hingga bel bubar sekola berdering, aku masih di dalam
perpustakaan, aku sengaja menunda pulang, agar tak ada yang tahu kalau aku
membolos pelajaran di perpustakaan.
Ketika aku hendak pulang, tiba tiba ada yang
memegang bahu ku, aku menahan takut dan pelan pelan ku menoleh.
“tadi
shasha nyariin lo, lo dari mana?” tanya bayu .
“ah
elo bay, gua fikir siapa, gua tadi bolos pelajaran, tapi lu jangan
bilang-bilang Shasha ya please.”
Mohon ku pada Bayu.
“yaudah
Jo lu balik bareng gua aja deh, gua takut lu kenapa-kenapa”
“ga
usah Bay, gua lagi males balik ke rumah.”
“lho,
terus lu mau kemana? Gua takut lu bunuh diri.”
“ah
parah lo, ga mungkin gua sampe bunuh diri segala.” Aku dan Bayu pun tertawa.
“nah
gitu dong ketawa, jangan manyun terus, jelek tau, yauda hari ini gua traktir
makan ice cream yu.” Ajak bayu.
Air muka ku jadi semangat lagi, ahirnya aku ikut
Bayu. Dibawa aku ke salah satu Mall di Kota Ku.
“Bayu,
kita mau kemana lagi? Baskin Robbins nya udah lewat tuh, gua udah ngiler banget nih.”
Dia
hanya senyum seraya berkata, “gua yang nraktir lu, lu ikutin aja gua, dan ga
usah banyak omong.”
Aku hanya manyun dan terus melangkah mengikuti
langkah bayu, tak lama bayu menarik tangan ku dan memegangnya.
“lo
jalan deket gua aja, nanti dikiranya gua ke Mall bawa-bawa babu, kan gak enak
di liatnya, haha”
Aku
hanya melotot memandang dia, dia terus aja tertawa mengejek ku.
“eh
cowok gila, kenapa lu bawa gua ke XXI? Kan ga ada es krim di sini?”
“aduh
jo, siapa juga yang mau beli es krim di XXI, gua mau ngajak lu nonton, ada
film baru yang mesti gua tonton. Makannya gua sekalian ajak lo.”
Aku
hanya bengong dan mengikuti saja apa yang dia lakukan. Ahirnya aku dan Bayu
nonton film yang dia pilih, ya lumayan lah moodboster buat aku.
Setelah nonton, Bayu nepatin janji dia nraktir aku es krim. saat ku nikmati es krim ku, tiba tiba Bayu
membuka mulut.
“Jo,
lu tadi kenapa bolos?”
“gua
cerita tapi lu janji ya jangan bilang sama orangnya, gini tadi kan pas
istirahat gua ke lapangan basket, mau liat Angga, eh taunya si Angga lagi
beduaan sama Nina, mesra banget, gua..”
“cemburu
lu ya, haha” belum habis ku bicara dipotong sudah ucapan ku, aku hanya
mengangguk dan dia terus tertawa terbahak-bahak.
“sama
kalo gitu sama gua Jo, gua suka sama cewe, tapi ternyata cewe itu lebih suka
sama cowo lain.”
“siapa
Bay? Shasa kan sukanya sama lu bukan sama cowo lain”
“hah
Shasha suka sama gua?” tanya Bayu heran,
ya
ampun aku keceplosan, aku hanya mengangguk ragu.
“sumpah
gua ga tau kalo dia suka sama gua Jo, tapi gua ga ada feel sama dia, gua
sukanya sama temen dia Jo.”
Wajah
Bayu makin seriyus, “sebenernya gua..” ucapan Bayu menggantung.
“lo
kenapa Bayu?” tanya ku penasaran.
“gua
suka sama lo Jo, sumpah gua cemburu lu deket sama Angga, sebenrnya gua udah tau
kalo Angga jadian sama Nina kemarin, tapi gua sengaja gak mau ngasi tau lo, gua
takut lu kecewa, tapi ternyata lu udah tau dengan sendirinya.”
Aku hanya terdiam bingung mau bilang apa lagi atas
kejujuran Bayu.
Lalu
ku mengajaknya pulang, aku merasa pusing tiba-tiba,dan dia mengerti, Bayu
mengantarkan ku pulang sampai di depan rumah, dia memastikan sampai aku
masuk ke dalam rumah,
baru dia pergi.
Ternyata di rumah mama sudah menunggu,”dari mana aja
cantik baru pulang?” tanya mama dengan nada seriyus.
“itu
ma, anu, emm aku nganter temen ke Mall.”
“temen
yang mana? Tadi Shasha kesini nyariin kamu, kata dia, kamu ga masuk kelas dari
jam masuk setelah istirahat.”
Lalu
aku menangis dan menghambur kepelukan mama ku.
“maafin
aku ma, tadi aku bolos pelajaran,aku ke perpustakaan ma, pas pulang aku di ajak
nonton dulu sama temen ma.”
Mama
mengelus rambut ku, “kenapa sayang? Kenapa kamu sampai begini?”
“Angga
mah, cowo yang aku suka, pacaran sama Nina, terus ma, Bayu cowo yang Shasha
suka, nembak aku tadi waktu makan.”
Mamaku
tersenyum “ini semua proses menuju kedewasaan nak, pasti ada jalan keluarnya
ko, yauda sekarang kamu mandi dulu sana, terus istirahat. kalo kamu butuh seseorang buat dengerin cerita kamu, keluh kesah kamu, mama siap jadi pendengar kamu.”
“iya
mama makasi banget ya ma” ku pergi sambil mengecup pipi mama.
***
“kemarin
lo kemana Jo? Gua fikir lo balik duluan, tapi ternyata dirumah kata mama lo, lo
belom balik.” Tanya clarisha.
“anu
sha, itu.. enggg ..”
“kenapa
si lo, ga jelas banget”
“gua
bolos ke perpustakaan Jo, gua nangis di
sana, Angga sama Nina pacaran.”
“oh
Angga, iya gua udah tau ko dari Bayu, semalem Bayu kerumah gue Jo, dia ceritain
semuanya, dia ceritain juga pas dia jalan sama lo ke Mall bareng dia.”
“maaf
sha gua ga cerita ke lu soal itu, gua takut lo marah sama gua.”
“tadinya
si emang gua marah banget sama lo, tapi gua fikir-fikir lagi, ini bukan salah
lu ko Jo, kalo emang lo suka sama bayu ga apa apa, gua rela dia buat lo”
Senyum Clarisha mengembang di wajahnya, aku
memeluknya “Sha, gua ga mungkin sama Bayu, gua ga ada perasaan sama sekali ke
dia, tenang aja ya Sha”
“Jo, everything has changed, gak ada yang tau nantinya
bakal jadi apa. Apa lagi ini soal perasaan, tenang aja, Jo. Kalo pun bener lu
bisa jadian sama Bayu, gue rela.”
Deg, engga tau kenapa omongan Clasrisha kena banget ke
hatiku. Memang yang namanya kehidupan selalu berubah, gak ada yang tau
nantinya aku bakalan sama siapa, yang
pasti sekarang aku Cuma mau lupain Angga, Move on.
Hari-hari ku kini terasa berbeda dari biasanya,aku lebih
suka menghabiskan jam istirahat di
perpus, berkutat dengan buku-buku. Aku menghindar jika Bayu datang ke kelas.
Aku lebih sering menolak ajakan Clarisha ke kantin. Aku benar-benar sedang
butuh waktu untuk sendiri.
Gak terasa sekarang aku sudah kelas 2SMK, dikelas 2 ini
aku tidak sekelas lagi dengan Clarisha, tapi persahabatan kita tetap terjalin
hangat, walau sejak kejadian itu seekarang aku lebih tertutup.
Ku dengar dari Clarrisha, Angga dan Nina sudah putus. Aku
berusaha tidak mau tau soal itu, aku hanya mendengarkan Clarisha bercerita,
Bayu masih sendiri sampai saat ini, sama seperti Clarisha, mereka tetap akrab.
Bulan-bulan ini Clarisha sering membolos sekolah, mau gak
mau aku ahirya bertanya kepada Bayu soal Clarisha, tapi sayang Bayu pun gak
tau. Bayu mengajak ku untuk kerumah Clarisha sepulang sekolah.
Setiba dirumah Clarisha, yang ku temui hanya pembantunya,
dia bilang Clarisha dan keluarga sedang keluar negri untuk beberapa hari,
mungkin dia sedang berlibur, fikirku.
Setelah itu aku pulang di antar Bayu, sepanjang
perjalanan aku melamun, tak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulut
kita.
Dan ketika mobil Bayu parkir, aku baru sadar ini bukan
rumah ku. “Bay, kenapa lu ajak gue kesini? Ini rumah siapa?”
Dia Cuma senyum, dan mengajak ku turun. Aku mengikuti
langkahnya masuk keedalam rumah itu, disana ada seorang ibu muda yang masih
cantik, dan ternyata dia adalah ibunya Bayu, Bayu memperkenalkan aku dengan ibu
nya. “Oh kamu yang namanya Joeriska, tante udah sering denger cerita kamu dari
Bayu, tante selalu minta Bayu untuk ajak kamu kesini, ahirnya kamu main juga.”
Aku tertegun, tersenyum pahit, apa maksudnya Bayu membawa
aku kerumahnya, memperkenalkan aku dengan ibunya, dan yang lebih aneh, ibunya
sudah tau aku.
Bayu adalah anak tunggal, dia tinggal berdua saja dengan
ibunya, sejak umur 5 tahun, ketika itu dia harus diperkenalkan arti sebuah
perceraian. Ayahnya sekarang telah menikah lagi dengan gadis Bali, itulah
sebabnya Bayu tidak pernah setuju waktu Clarisha membuat rencana untuk berlibur
bersama ke Bali.
Selama seminggu, Bayu selalu mengantar ku pulang. Aku
jadi akrab dengan Bayu. Hari itu, Sabtu. Aku dan Bayu pergi ke Mall
untuk nonton, gak sengaja bertemu dengan Angga, ahirnya kita jalan bareng.
Angga dan bayu jalan didepan ku, mereka seperti sedang berbicara serius, tapi
terlihat seperti merahasiakan dari aku.
“Hey kalian berudua, jalan aja deh sana berdua, gue balik
aja.”
Angga dan Bayu membalikan badan bersamaan, dan menarik
tangan ku bersamaan agar berjalan sejajar dengan mereka, lalu kami bertiga
tertawa,”andai aja kamu ada di sini, Sha.” Pikir ku.
Seusai nonton, kami memilih makan di Solaria, suasana
hening, sampai ahirrnya Bayu bersuara, dia berpamitan ke Toilet, aku hanya
berdua dengan Angga disini.
“Jo, gue baru tau dari Nina, kalo lu suka sama gua sejak
kelas satu, maafin gue ya, Jo. Gua gak peka.”
“loh? Nina tau dari mana Ga?”
“Nina bilang sih dia diceritain Clarisha, katanya
Clarisha ngerasa kehilangan lu waktu lu patah hati. Jo gua minta maaf banget ya
gak liat lu waktu itu, gak sadar, gua malah sama Nina, lu masih sayang kan sama
gua, Jo? Lu mau kan kita mulai dari awal lagi? Lu mau jadi pacar gua?”
Aku gugup, antara senang, kesel, benci, semua perassaan
kecampur jadi satu.
“maaf, Ga. Gue gak bisa. Itu dulu, sebelum gua bangkit
kaya sekarang, gue udah bisa lupain lu, udah bisa bangkit, dan ga mungkin gua
jatuh ketempat yang sama.”
Setelah itu kami berdua terdiam, untung lah bayu datang,
seepertinya dia tau situasi yang sedang kami berdua rasakan, dia mencairkan
suasana.
Setelah makan, aku pulang di antar Bayu, Angga memilih
memisahkan diri setelah makan. Dia bilang, mau bertemu ibunya.
***
“Sayang, tadi Shasha telpon, katanya handpone kamu gak
aktif, dia minta kamu kerumahnya.” Mama memberitahuku ketika aku sampai
dirumah.
Kemudian aku mandi dan bersiap-siap kerumah Clarisha,
tidak lupa aku membawa baju ganti, berhubung hari ini malam minggu, aku berniat
menginap di rumah Clarisha.
Sesampainya dirumah Clarisha, aku diboyong ke kamarnya dilantai
dua.
Dia memelukku, aku pun balas pelukannya, “gue kangen
banget sama lo Sha, lu kok pergi gak bilang bilang sih” dia malah menangis,
lalu melepaskan pelukannya,
“gua juga kangen sama lu, Jo. Kangen sama ketawa lo,
cerita cerita lo, gua ngerasa kehilangan lo banget sejak kejadian dulu itu.”
Aku menghapus air matanya, aku mencerita kejadian hari
itu ke Clarisha, dia minta maaf karena telah lancang menceritakan soalnya ke
Nina. Dan aku memaafkan.
***
Sekarang semua sudah berubah, aku sudah benar-benar
bangkit, aku sudah menebarkan senyum kesekeliling ku. Aku lebih bersemangat
dari sebelumnya, dan persahabatan aku dengan Clarisha semakin erat.
Hingga suatu hari, Clarisha tidak masuk sekola lagi. Aku
dan Bayu pergi kerumahnya, dan lagi-agi hanya bertemu dengan pembantunya.
“Non Clarisha ada di rumah sakit, emba. Emba
susulin aja, ini kamarnya” ucap pembantunya sambil memeberikan secarik kertas
kecil.
Aku dan bayu bergegas ke rumah sakit. Disana sudah ada
ayah dan ibu clarisha, aku dan Bayu masuk kedalam ruangan Clarisha dirawat.
Dia tersenyum kepada kami, aku memeluknya “kenapa lo gak
pernah cerita kalo lu sakit, Sha. Lo gak anggep gue temen lo? Jahat lo Sha”
ucapku dalam peluknya, beruraian air mata kami.
Lalu aku melepaskan pelukan ku, dia tersenyum, dan
memengan tangan ku, juga menarik tangan Bayu, dan menyatukan tangan kami.
“lo mau kan Jo, ngabulin permintaan terakhir gue?”
Aku tak menjawab, “Lo mau ya, jadi pacarnya Bayu, dia
masih sayang sama lo, Jo. Kalo lu sayang sama gue, lu harus mau.” Lanjutnya.
“apaan si lo Sha, lu gak boleh ngomong gitu, lu pasti
kuat.”
“Oke, gue berusaha kuat, tapi lo harus jadian sama Bayu,
sekarang. Disini, didepan gue.” Pinta Clarisha.
Aku hanya mengangguk, Bayu tertegun, “Sha, makasi banyak,
tapi bukan seperti ini yang gua mau, gua lebih senang kalo kita bertiga tetap
temenan” lanjut Bayu.
“Jangan munafik, bay. Cepet lo tembak Jo sekarang,
sebelum jo milih Angga, lagi.”
Suasana sunyi, “Jo, gua mungkin gak pernah terlintas
difikiran lu, gua mungkin hanya teman laki-laki lu, yang memang akan selalu
menjadi teman, gak lebih. Tapi sekali ini gua mohon, maukah elo jadi pacar
gue?” bayu memegang tanganku.
Aku hanya mengangguk, dan Bayu memelukku, Clarisa
tersenyum, terlihat kebahagiaan terulas di wajahnya.
Sejak itu kami resmi berpacaran, aku dan Carisha tetap
sering menghabiskan watu berama, bedanya sekarang setiap malam minggu aku tidak
lagi menginap dirumahnya.
Dua bulan sudah aku dan bayu berpacaran, Orang tua
Clarisha menelpon ku, aku diminta untuk kerumahnya sekarang.
Aku dan Bayu segera meluncur kerumah Clarisha,
sesampainya disana, suasana rumahnya penuh duka. Bendera kuning tertancap
dipagar rumahnya, semua mata berair.
Aku masuk, dan langsung memeluk Clarisha, jasat Clarisha,
secepat ini dia meninggalkan aku, meninggalkan kami. Karena tumor ganas
dikepalanya.
Aku menangis sejadi-jadinya.
Ibunya Clarisha memberikan aku surat berwarna ungu, warna
kesukaan Clarisha.
“Joe, gua
sayang banget sama lo, lo udah gua anggap saudara gue sendiri, gue rela dan
bahagia banget kalo orang yang gua sayang bisa sama lo, maaf gua gak pernah
cerita soal penyakit yang selama ini gua derita, gua Cuma mau nikmati masa muda
gua, dan gua ketemu lo, juga Bayu, gua bahagia banget. Makasi yah, lu udah mau
melukis kanvas putih gua dengan warna warna yang terang, lu harus percaya, Jo.
Tanpa lo sama bayu, Kanvas hidup gua pasti Cuma ada warna gelap, hidup gua
gelap, tanpa semangat. Gua harap lu bisa sayang sama Bayu, sebagai mana Bayu
sayang banget sama lu, dan sesayang Gua ke Bayu. Dan lu harus janji sama gua,
apapun cita-cita lo, tujuan hidup lo, lo
harus kejar itu. Karna lo punya banyak kesempatan, gak kaya gue. Gue sayang
sama lo. sodara gua, Joeriska Agiska.”
Setelah membaca surat clarisha aku benar benar merasa
sedih, kenapa aku gak pernah bisa berikan yang terbaik buat dia dulu.
Bayu memelukku, dia menjaga ku selama pemakaman Clarisha
berlangsung. Disini, di atas batu nisan Clarisha, aku berjanji pada diriku
sendiri, untuk tetap hidup dan mewujudkan impian impian ku, dan juga permintaan
terahir Clarisha. Menyayangi Bayu, sebagai mana Bayu menyayangiku, sebagaimana
Clarisha menyayangi bayu.
The End